Mengenal Tradisi Tedak Siten
Tedak siten (juga disebut tedhak siten) adalah upacara adat Jawa yang diselenggarakan ketika seorang bayi berusia sekitar tujuh hingga delapan bulan — tepatnya saat pertama kali diperkenalkan untuk berdiri atau melangkah di atas tanah. Kata tedak berarti "menginjak" atau "turun", sedangkan siten berasal dari kata siti yang berarti "tanah" atau "bumi".
Upacara ini merupakan salah satu rangkaian slametan (selamatan) dalam siklus kehidupan masyarakat Jawa yang bertujuan memohon keselamatan, keberuntungan, dan kemudahan jalan hidup bagi sang anak.
Sejarah dan Latar Belakang
Tradisi tedak siten sudah ada jauh sebelum masuknya agama Islam ke Jawa dan diyakini memiliki akar dari kepercayaan animisme serta Hindu-Buddha. Tanah dipandang sebagai ibu yang memberi kehidupan. Oleh karena itu, memperkenalkan anak kepada bumi merupakan ritual sakral yang penuh makna spiritual.
Dalam pandangan kosmologi Jawa, hubungan manusia dengan tanah (siti) adalah hubungan yang suci dan harus diawali dengan penuh rasa hormat.
Rangkaian Prosesi Tedak Siten
Upacara ini memiliki beberapa tahapan simbolis yang kaya makna:
- Menapaki jadah (jenang) tujuh warna: Sang bayi dibantu menapaki tujuh tumpukan jadah (ketan) dengan warna berbeda yang melambangkan perjalanan hidup dengan berbagai rintangan dan keindahan.
- Menaiki tangga tebu: Bayi dinaikkan ke atas tangga yang terbuat dari batang tebu (arjuna), melambangkan harapan agar anak tumbuh seperti tebu — manis dan kuat.
- Dimasukkan ke dalam kurungan ayam: Bayi dimasukkan sejenak ke dalam kurungan berisi benda-benda pilihan seperti mainan, buku, perhiasan, atau peralatan. Benda yang pertama diraih dipercaya mencerminkan bakat atau jalan hidup sang anak.
- Mandi bunga (siraman): Bayi dimandikan dengan air bunga tujuh rupa sebagai simbol penyucian dan doa keharuman nama.
- Tabur uang logam: Keluarga menabur uang logam dan biji-bijian yang diperebutkan hadirin, melambangkan harapan kemakmuran dan rezeki yang berlimpah.
Perlengkapan yang Disiapkan
| Perlengkapan | Makna Simbolis |
|---|---|
| Jadah 7 warna | Tujuh tahapan/cobaan kehidupan |
| Tangga tebu arjuna | Kekuatan dan kemanisan hidup |
| Kurungan ayam | Batas perlindungan dari bahaya |
| Air kembang setaman | Kesucian dan keharuman akhlak |
| Uang logam & beras | Harapan rezeki dan kemakmuran |
Tedak Siten di Era Kini
Di era modern, tedak siten masih dirayakan oleh banyak keluarga Jawa, meski dengan adaptasi. Beberapa keluarga menggelar upacara ini secara sederhana di rumah, sementara yang lain menyelenggarakannya dengan mewah sebagai pesta keluarga. Yang terpenting adalah nilai dan doa yang terkandung di dalamnya tetap dijaga.
Tradisi ini juga semakin banyak didokumentasikan dalam foto dan video sebagai kenangan berharga yang akan diceritakan kepada sang anak kelak. Tedak siten bukan sekadar ritual — ia adalah cinta orang tua yang diwujudkan dalam bentuk budaya.